NAHDLATUL WATHAN DAN GERAKAN PENDIDIKAN UMAT; Konservasi Nilai Menuju Digitalisasi Gerakan

Authors

  • Lalu Muhamamd Iqbal
  • Fahrurrozi Fahrurrozi

Keywords:

Nahdlatul Wathan, Gerakan Ummat

Abstract

Ralp Dahrendorf mengulas bahwa masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.[1] Teori ini nampaknya tepat untuk digunakan dalam memahami perkembangan organisasi di Nusa Tenggara Barat, dimana setting sosial masyarakatnya secara kultur dan agama sangat pluralistik dan kompleks, sehingga masyarakat yang berada dalam komunitas etnis, kultur, dan agama bahkan organisasi masyarakat (ormas)[2] yang beragam itu harus mendapatkan sosialisasi berkesinambungan tentang arti keragaman dalam keberagamaan. Upaya ini menjadi penting sebagai modal untuk menciptakan keharmonisan dalam semua aspek kehidupan majemuk.

Ada dua bentuk pengkajian yang dilakukan oleh para penyelidik kesejarahan Islam Indonesia yang dapat dilihat. Pertama, menampilkan bentuk kajian menyeluruh dengan melihat semua organisasi yang ada sebagai suatu kesatuan. Masing-masing organisasi tidak dilihat secara tersendiri, melainkan diamati dalam kegiatan dan keterkaitannya dengan organisasi lain, lalu dihubungkan dengan keterlibatan mereka dalam pergerakan keagamaan di Indonesia. Kedua, menampilkan secara terpisah. Peran dan perkembangan

 

[1]Lihat Ritzer George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda, (terj), (Jakarta: CV Rajawali, 1998)h.30..lihat kutipannya juga dalam Abd Aziz (Peny.), Gerakan Islam Kontemporer di Indonesia,(Jakarta: Pustaka Firdaus, 2004) h.66.

[2]Konsep organisasi di kalangan para ahli sosiologi dan antropologi secara umum mengatakan bahwa organisasi pada prinsipnya memiliki dua dimensi penting, pertama adalah organisasi sosial dan kedua dikatakan sebagai struktur sosial. Organisasi sosial termasuk di dalamnya organisasi keagamaan seperti NU, NW, Muhammadiyah, di mana para ahli kerap kali menyamakan begitu saja kedua konsep ini. Padahal organisasi sosial cendrung digunakan secara longgar untuk merujuk kepada penjumlahan total kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam konteks sosial tertentu. Sedangkan struktur sosial biasanya dipergunakan ntuk merujuk konteks sosial itu sendiri, atau lebih tepatnya bagi seperangkat  hubungan sosial yang menjalin keterkaitan individu-individu dalam masyarakat. (lihat, Ahmad Fedyani Saifuddin, Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma, (Jakarta: Kencana Prenada, 2006)h. 170

Downloads

Published

2023-10-28

How to Cite

Iqbal, L. M., & Fahrurrozi, F. (2023). NAHDLATUL WATHAN DAN GERAKAN PENDIDIKAN UMAT; Konservasi Nilai Menuju Digitalisasi Gerakan. Jurnal Elkatarie: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Sosial, 5(2), 1–15. Retrieved from https://ejurnal.yayasanelkatarie.or.id/index.php/jurnalelkatarie/article/view/45